Poin penting
Ya, guru boleh menggunakan AI untuk membantu membuat perangkat ajar seperti modul ajar, RPP, lembar kerja, atau bank soal. Syaratnya, AI berperan sebagai asisten penyusun draf. Guru tetap memutuskan isi, memeriksa kebenarannya, dan menyesuaikannya dengan kelas. Ada dua batas yang tidak bisa ditawar: data pribadi siswa tidak dimasukkan ke AI, dan tidak ada hasil AI yang dipakai di kelas sebelum dibaca ulang serta disunting oleh guru.
Bagian-bagian berikut menjelaskan cara menjalankan prinsip itu di sekolah. Isinya mencakup bagian modul yang wajar dibantu AI, data yang harus dijauhkan dari AI, bentuk prompt yang terstruktur dan aman, serta cara memeriksa hasilnya.
Artikel ini tidak merujuk regulasi resmi tertentu yang secara khusus mengatur pemakaian AI oleh guru, sehingga tidak menyebut nomor peraturan. Sebelum menetapkan aturan, periksa dulu edaran atau panduan terbaru dari Kemendikdasmen, dinas pendidikan setempat, dan kebijakan internal sekolah atau yayasan Anda.
Meski begitu, berbagai panduan praktis yang beredar di kalangan pendidik menunjukkan sikap yang seragam. Blog Kejarcita menegaskan bahwa keputusan akhir tentang materi, metode, bentuk penilaian, dan strategi pembelajaran tetap menjadi tanggung jawab guru. AI hanya memberi rekomendasi berdasarkan instruksi pengguna.
Posisi ini masuk akal. Tanggung jawab profesional atas apa yang terjadi di kelas tidak berpindah ke perangkat lunak. Kalau sebuah modul berisi fakta keliru atau aktivitas yang tidak cocok untuk siswa, yang dimintai pertanggungjawaban adalah guru dan sekolah, bukan aplikasinya.
Pelatihan pemanfaatan AI untuk guru kini cukup sering muncul dalam pemberitaan daerah. Malang Post memberitakan Filkom UB melatih 60 guru SMKN 5 Malang memanfaatkan AI. Babelpos memberitakan 34 guru SMAN 1 Damar dilatih memanfaatkan AI untuk menyusun modul dan bahan ajar. Warta Garut juga memberitakan dorongan bagi guru Bahasa Inggris untuk menyusun modul ajar berbasis AI. Berita-berita ini cukup sebagai gambaran tren. Isinya tidak membuktikan efektivitas AI.
Alasan utamanya mudah dipahami. Menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka dari nol menuntut banyak waktu, mulai dari menata format, merumuskan langkah atau sintaks model pembelajaran, sampai membuat instrumen asesmen. Hal ini juga diakui oleh laman SD Negeri 3 Canduk. AI membantu menyiapkan kerangka awal sehingga guru bisa memakai energinya untuk hal yang tidak bisa digantikan, yaitu memahami siswanya. Pembahasan yang lebih luas tentang posisi AI dalam perancangan pembelajaran ada di artikel strategi integrasi AI sebagai asisten pendidik.
Tidak. Setidaknya ada empat alasan.
Agar batasnya tidak abstrak, berikut pemetaan komponen modul ajar. Tabel ini merupakan kerangka berpikir yang bisa disesuaikan dengan kebijakan sekolah, bukan aturan resmi.
| Komponen modul ajar | Peran AI yang wajar | Keputusan yang tetap di tangan guru |
|---|---|---|
| Informasi umum (mapel, fase, alokasi waktu) | Menata format dan tata letak | Memastikan data sesuai jadwal dan kalender sekolah |
| Tujuan Pembelajaran (TP) | Memberi beberapa alternatif rumusan sebagai bahan pertimbangan | Memilih dan merumuskan TP berdasarkan Capaian Pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang disepakati sekolah |
| Pemahaman bermakna dan pertanyaan pemantik | Menawarkan ide pertanyaan dan kaitan dengan kehidupan sehari-hari | Memilih yang relevan dengan lingkungan dan budaya siswa |
| Langkah kegiatan pembelajaran | Menyusun draf sintaks model pembelajaran dan variasi aktivitas | Menyesuaikan durasi, alat, ruang, dan dinamika kelas yang sebenarnya |
| Diferensiasi | Memberi contoh strategi untuk profil belajar yang digambarkan secara umum | Menentukan siswa mana yang memerlukan dukungan apa, berdasarkan asesmen diagnostik |
| Asesmen (formatif dan sumatif) | Membuat draf soal, variasi butir, dan rubrik awal | Memvalidasi kunci jawaban, tingkat kesulitan, keselarasan dengan TP, dan menetapkan kriteria ketercapaian |
| Lembar kerja dan bahan bacaan | Menyusun draf teks, ringkasan, atau glosarium | Mengecek kebenaran isi, kesesuaian bahasa dengan usia siswa, dan hak cipta gambar atau kutipan |
| Refleksi guru dan siswa | Memberi contoh pertanyaan refleksi | Menulis refleksi berdasarkan pengamatan nyata di kelas |
Polanya terlihat jelas. AI cocok untuk pekerjaan yang bersifat menghasilkan pilihan. Guru memegang pekerjaan yang bersifat memilih dan menilai, terutama TP, asesmen, dan penyesuaian untuk siswa tertentu.
Jawaban teraman adalah jangan memasukkan data yang bisa mengidentifikasi siswa atau sekolah. Blog Kejarcita menyebut nama lengkap peserta didik, nomor induk, nilai individu, dan alamat sebagai contoh informasi sensitif yang sebaiknya tidak dimasukkan karena berpotensi tersimpan pada sistem AI. Dea Learning Center juga menyarankan agar data pribadi siswa, nama sekolah secara spesifik, dan informasi sensitif lain tidak dimasukkan ke ChatGPT. Prinsip yang sama berlaku untuk layanan AI lain, apa pun mereknya.
AI tetap bisa memberi hasil yang relevan tanpa data pribadi. Kuncinya, gambarkan pola kelas, bukan orang per orang.
Bagi sekolah yang ingin menata pengamanan data secara menyeluruh, artikel audit IT dan keamanan data sekolah bisa menjadi rujukan lanjutan.
Banyak guru mencari “prompt membuat modul ajar” karena hasil pertama dari AI sering terasa dangkal. Penyebabnya biasanya ada pada perintahnya. Menurut laman SD Negeri 3 Canduk, perintah sederhana seperti meminta “buatkan modul ajar” untuk satu mapel cenderung menghasilkan dokumen yang umum, singkat, dan belum siap dipakai di kelas.
AI bekerja berdasarkan instruksi. Makin jelas konteks yang Anda berikan, makin sedikit bagian yang perlu dirombak. Dea Learning Center menyarankan agar konteks diberikan layaknya memberi arahan kepada asisten manusia, yaitu dengan menyebut mata pelajaran, kelas, rentang usia, kurikulum, dan durasi pertemuan. Gagasan serupa disampaikan dalam video “Cara Membuat Prompt Chat GPT dalam Membuat Modul Ajar”, yang menjelaskan bahwa chatbot generatif menghasilkan keluaran sesuai perintah yang diberikan.
Contoh berikut bersifat ilustratif. Ganti bagian dalam kurung sesuai kebutuhan Anda, lalu cocokkan komponen dan istilahnya dengan panduan resmi terbaru.
Bertindaklah sebagai asisten penyusun draf modul ajar Kurikulum Merdeka. Saya guru [mata pelajaran] di [fase/kelas], topik [topik], alokasi waktu [jumlah pertemuan dan durasi].
Gambaran kelas: sebagian siswa sudah memahami konsep dasar, sebagian masih membutuhkan contoh konkret dan visual. Sekolah memiliki proyektor, tetapi akses internet di kelas tidak stabil.
Susun draf modul ajar dengan komponen: informasi umum, tiga alternatif rumusan Tujuan Pembelajaran untuk saya pilih, dimensi Profil Pelajar Pancasila yang relevan, pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, langkah kegiatan pendahuluan-inti-penutup, strategi diferensiasi untuk dua kelompok kemampuan, asesmen formatif beserta rubrik sederhana, dan pertanyaan refleksi.
Gunakan bahasa yang sesuai untuk usia siswa. Jangan mencantumkan sumber atau data yang tidak bisa diverifikasi. Tandai bagian yang perlu saya periksa atau sesuaikan.
Perhatikan bahwa contoh ini meminta alternatif TP, bukan TP final. Contoh ini juga menggambarkan kelas tanpa satu pun nama. Itulah inti prompt yang aman: AI menyiapkan bahan, guru tetap memilih.
Gunakan daftar ini setiap kali menerima draf dari AI.
Sebagai contoh hipotetis, AI mungkin menyarankan praktikum dengan alat yang tidak dimiliki sekolah. Guru lalu menggantinya dengan bahan sederhana di sekitar sekolah dan mengubah langkah kegiatannya. Penyuntingan semacam inilah yang membuat modul benar-benar menjadi milik guru.
Tanpa kesepakatan, setiap guru akan memakai AI dengan standarnya sendiri. Akibatnya, ada yang terlalu longgar soal data, ada pula yang takut memakainya sama sekali. Kepala sekolah bisa mengusulkan kesepakatan sederhana dalam rapat dewan guru, misalnya:
Kesepakatan ini bisa dibakukan menjadi prosedur tertulis. Langkah penyusunannya dijelaskan dalam panduan menyusun SOP sekolah. Jika tujuan sekolah memakai AI adalah meringankan beban administrasi guru, kaitkan pula dengan pemetaan beban kerja guru agar waktu yang terbebas benar-benar dipakai untuk pembelajaran.
Langkah awal yang realistis: pilih satu topik yang akan Anda ajarkan bulan ini, susun prompt tanpa data pribadi seperti contoh di atas, lalu jalankan checklist verifikasi pada drafnya. Dari satu modul itu, Anda akan melihat sendiri bagian mana yang benar-benar terbantu oleh AI dan bagian mana yang tetap membutuhkan penilaian Anda sebagai guru.
Penilaiannya bergantung pada kebijakan sekolah atau pihak yang memeriksa modul. Secara umum, modul yang telah dipilih, disunting, dan disesuaikan oleh guru dengan kondisi kelasnya jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada salinan mentah. Bila ragu, tanyakan aturan yang berlaku ke kepala sekolah atau dinas pendidikan.
Belum ada ketentuan umum yang dirujuk dalam artikel ini. Keterbukaan tetap dianjurkan, terutama bila sekolah sudah memiliki kesepakatan pemakaian AI, agar supervisi akademik bisa fokus pada kualitas penyesuaian modul terhadap kelas.
AI dapat membantu membuat draf rubrik atau contoh umpan balik. Namun, penilaian akhir tetap keputusan guru, dan jawaban yang memuat identitas atau nilai individu siswa sebaiknya tidak dimasukkan ke layanan AI.