“Ayo Bu, tinggal klik tombol ‘assignment’ di kanan atas.”
Kalimat itu diucapkan santai oleh seorang siswa kelas 8 kepada gurunya. Namun bagi sang guru, Ibu Rani, itu adalah momen yang menegangkan. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memahami antarmuka platform pembelajaran digital yang baru saja diperkenalkan sekolahnya.
Digitalisasi pendidikan datang dengan kecepatan tinggi. Berbagai platform e-learning seperti Google Classroom, Moodle, dan sistem lokal bermunculan. Tapi pertanyaannya: apakah semua guru siap menghadapi perubahan ini?
Banyak guru senior belum terbiasa menggunakan sistem manajemen pembelajaran digital. Antarmuka yang dianggap sederhana oleh generasi muda, terasa membingungkan bagi mereka yang baru mengenal dunia daring.
Di banyak wilayah, koneksi internet masih menjadi tantangan utama. Komputer sekolah yang sudah usang, atau tidak adanya akses Wi-Fi stabil, membuat e-learning sulit diterapkan secara konsisten.
Ironisnya, digitalisasi sering kali membuat beban guru bertambah. Selain mengajar, guru harus memastikan konten bisa diakses, mengoreksi tugas digital, dan merekap nilai dalam sistem online.
Di sebuah sekolah swasta di Sleman, pendekatan mentoring antar guru diterapkan. Guru-guru muda melatih guru senior setiap minggu menggunakan simulasi praktik. Hasilnya, dalam 3 bulan mayoritas guru merasa lebih percaya diri dalam mengelola kelas digital mereka.
Siswa generasi digital cenderung lebih cepat beradaptasi. Namun mereka juga mengeluhkan jika guru tampak bingung atau materi tidak tersampaikan jelas. Orang tua pun mulai khawatir, terutama jika tugas online terlalu kompleks atau repetitif.
Guru butuh pelatihan yang nyata, bukan sekadar teori. Latihan membuat kuis, mengunggah video pembelajaran, dan mengatur kelas online perlu didampingi langsung oleh mentor.
Apresiasi kecil seperti penghargaan “guru paling adaptif” bisa meningkatkan motivasi. Lingkungan sekolah juga harus memberi ruang untuk bertanya tanpa takut dihakimi.
Daripada memaksa semua guru langsung menguasai sistem, evaluasi bertahap dan penyesuaian target jauh lebih manusiawi dan efektif.
Platform boleh canggih. Aplikasi boleh banyak. Tapi tanpa guru yang siap secara teknis dan emosional, digitalisasi akan menjadi beban, bukan solusi.
Sudah saatnya kebijakan transformasi digital memperhatikan manusia di balik layar — yaitu para guru yang selama ini menjadi pilar pendidikan Indonesia.
Bagaimana pengalaman Anda menghadapi platform e-learning di sekolah? Apakah Anda punya solusi atau cerita inspiratif? Bagikan di kolom komentar!